Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan persoalan yang beragam dan diharuskan profesional dalam bidang masing-masing. Dunia kerja, media sosial, pertemanan, dan keluarga memiliki porsi masing-masing. Seringkali kita emosi, akibat terjadi sebuah persoalan dilingkungan keluarga misalnya. Maka emosi itu semestinya cukup dilingkungan keluarga dan tidak dibawa ke lingkungan pertemanan, dunia kerja, apalagi media sosial. Hal tersebut yang sering tidak dipahami beberapa orang, seperti contoh memposting masalah pribadi atau keluarga di media sosial dengan harapan viral atau dengan harapan memojokkan si A atau si B atau lainnya. Akan tetapi perlu dipahami! Visi dan misi, pola pikir seseorang dengan kita pasti berbeda. Bisa jadi postingan kita merupakan alat bagi orang lain menghancurkan kita, alasan untuk membenci, atau sebuah bahan seseorang untuk menilai kita. Padahal penilaian orang juga belum tentu benar. Maka dari itu, perlu kita pelajari makna “topeng” dalam perspektif sosial.
Haruskah topeng itu ada?
Mungkin sebagian orang bertanya, atau sudah mengatakan bahwa topeng itu harusnya tidak ada. Dengan alasan merupakan tindakan tidak jujur atau bermuka dua. Akan tetapi sebenarnya topeng itu ibarat pisau! Iya sebuah pisau….
“Pisau dapat menjadi alat pembunuh, atau alat yang membantu kehidupan manusia”
Pisau dapat digunakan untuk memotong dan mengupas bahan-bahan makanan seperti sayur, daging, atau buah-buahan.
Maka dari itu kita tidak bisa mengatakan topeng itu tidak boleh ada!
Bagaimana menyikapi makna “topeng” dalam kehidupan sehari-hari?
Seseorang mungkin ingin memperlihatkan kualitas dirinya, tetapi cara memperlihatkan juga perlu dipelajari dengan waktu yang tidak sebentar dan tidak sederhana. Karena “topeng” yang terbuat dari kulit tidak jauh berbeda dengan topeng berbahan “prinsip”. Keduanya sama-sama memiliki unsur seni, perlu sebuah konsep dan cara tertentu untuk menjadikannya indah.